Pada masa sekarang ini
pendidikan merupakan suatu kebutuhan primer, pendidikan memegang peranan
penting. Pada saat orang–orang berlomba untuk mengenyam pendidikan setinggi
mungkin, tetapi disisi lain ada sebagian masyarakat yang tidak dapat mengenyam
pendidikan secara layak, baik dari tingkat dasar maupun sampai ke jenjang yang
lebih tinggi. Selain itu ada juga anggota masyarakat yang sudah dapat mengenyam
pendidikan dasar namun pada akhirnya putus sekolah juga. Ada banyak faktor yang
menyebabkan putus sekolah seperti keterbatasan dana pendidikan karena kesulitan
ekonomi,kurangnya fasilitas pendidikan dan karena adanya faktor lingkungan
(pergaulan).

Pemenuhan hak pendidikan
tersebut diperoleh secara formal di sekolah, secara informal melalui keluarga.
Khususnya pendidikan formal tidak semua anak mendapatkan haknya karena
kondisi-kondisi yang memungkinkan orang tuanya tidak dapat memenuhinya.
Kemiskinan karena tingkat pendidikan orang tua rendah merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan keterlantaran pemenuhan hak anak dalam bidang pendidikan formal sehingga anak mengalami putus sekolah.
Kemiskinan karena tingkat pendidikan orang tua rendah merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan keterlantaran pemenuhan hak anak dalam bidang pendidikan formal sehingga anak mengalami putus sekolah.
Orang tua mempunyai
peranan dan dasar terhadap keberhasilan perkembangan anak, sedangkan tugas dan
tanggung jawab untuk hal tersebut adalah tugas bersama antara orang tua,
masyarakat, dan pemerintah serta anak itu sendiri.
Secara alami anak lahir
dan dibesarkan dalam keluarga , sejak lahir anak sudah dipengaruhi oleh
lingkungan yang terdekat yaitu keluarga, akibat ketidak mampuan ekonomi
keluarga dalam membiayai sekolah menimbulkan masalah pendidikan seperti masalah
anak putus sekolah.
Dalam UUD 1945
dinyatakan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasarnya,berhak mendapat pendidikan dan mendapatkan manfaat dari ilmu
pengetahuan dan tehnologi seni dan budaya, untuk meningkatkan kualitas
hidupnya.[1]
Kemiskinan karena
tingkat pendidikan orang tua rendah merupakan salah satu faktor yang
mengakibatkan keterlantaran pemenuhan hak anak dalam bidang pendidikan formal
sehingga anak mengalami putus sekolah.
Banyak sekali Faktor
yang menjadi penyebab anak mengalami putus sekolah, diantaranya yang berasal
dari dalam diri anak putus sekolah disebabkan karena malas untuk pergi sekolah
karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya,
sering dicemoohkan karena tidak mampu membayar kewajiban biaya sekolah.
Ketidak mampuan ekonomi
keluarga dalam menopang biaya pendidikan yang berdampak terhadap masalah
psikologi anak sehingga anak tidak bisa bersosialisasi dengan baik dalam
pergaulan dengan teman sekolahnya selain itu adalah karena pengaruh teman
sehingga ikut-ikutan diajak bermain seperti play stasion sampai akhirnya sering
membolos dan tidak naik kelas, prestasi di sekolah menurun dan malu pergi
kembali ke sekolah. Anak yang kena sanksi karena mangkir sekolah sehingga kena
Droup Out.
Keadaan status ekonomi
keluarga.Dalam keluarga miskin cenderung timbul berbagai masalah yang berkaitan
dengan pembiayaan hidup anak, sehingga anak sering dilibatkan untuk membantu
memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga merasa terbebani dengan masalah
ekonomi ini sehingga mengganggu kegiatan belajar dan kesulitan mengikuti
pelajaran.
Kurangnya perhatian
orang tua cenderung akan menimbulkan berbagai masalah. Makin besar anak maka
perhatian orang tua makin diperlukan, dengan cara dan variasi dan sesuai
kemampuan. Kenakalan anak adalah salah satu penyebabnya adalah kurangnya
perhatian orang tua. Hubungan keluarga tidak harmonis dapat berupa perceraian
orang tua, hubungan antar keluarga tidak saling peduli, keadaan ini merupakan
dasar anak mengalami permasalahan yang serius dan hambatan dalam pendidikannya
sehingga mengakibatkan anak mengalami putus sekolah.
Pendidikan dasar wajib
yang dipilih Indonesia adalah 9 tahun yaitu pendidikan SD dan SMP, apabila dilihat
dari umur mereka yang wajb sekolah adalah 7–15 tahun.Pendidikan merupakan hak
yang yang sangat fundamental bagi anak.Hak yang wajib dipenuhi dengan kerjasama
dari orang tua masyarakat dan pemerintah Namun tidaklah mudah untuk
merealisasikan pendidikan khususnya menuntaskan wajib belajar 9 tahun, karena
pada kenyataannya masih banyak angka putus sekolah.
Meskipun dasar hukum
untuk peningkatan pendidikan sangat kuat, namun pendidikan masih merupakan
persoalan yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Pendidikan rata rata
penduduk Indonesia masih sangat rendah, Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan
61 persen diantaranya bahkan tidak pernah lulus SD.
Angka partisipasi
Sekolah (APS), ratio penduduk yang bersekolah berdasarkan kelompok usia sekolah
masih belum sesuai yang diharapkan. Susenas 2010 menunjukan bahwa APS untuk
penduduk usia 7–12 tahun sudah mencapai 96,4% , namun APS penduduk usia 13-15
tahun baru mencapai 81%, Angka tersebut mengindikasikan bahwa masih terdapat
sekitar 19% anak usia 13-15 tahun yang tidak bersekolah maupun karena putus
sekolah atau tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Data Susenas
mengungkapkan bahwa faktor ekonomi merupakan alasan utama anak putus sekolah
tidak melanjutkan pendidikan (75,7%), karena kebutuhan siswa jauh lebih besar
dibandingkan dengan iuran sekolah.
Pendanaan pendidikan
yang menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat, sampai
saat ini kenyataannya ditanggung oleh orang tua siswa akibatnya sekolah
memungut berbagai iuran dan sumbangan kepada orang tua siswa, sehingga
pendidikan menjadi mahal dan hanya menyentuh kelompok masyarakat menengah ke
atas.Anak–anak dari kelompok keluarga tidak mampu tidak sanggup membiayai
sekolah anaknya, Oleh karena itu langkah pemerintah dengan membebankan pembiayaan
pendidikan kepada orang tua siswa tidaklah tepat mereka yang tidak mampu lebih
memilih untuk tidak meneruskan sekolah anaknya dan lebih diprioritaskan untuk
pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari –hari.
Tujuan karya tulis ini
yaitu ;(1)Untuk mengetahui Akibat Anak Putus Sekolah, (2)Untuk
mengetahui Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah, (3)Penanganan Anak Putus
Sekolah.
0 komentar:
Posting Komentar